Yogyakarta (ANTARA News)- PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) masih membutuhkan lembaga riset khusus untuk menunjang perkembangan, keselamatan, dan kecepatan kereta api di Indonesia, kata Vice President Angkutan Penumpang PT Kereta Api, Handy Purnama.

"Menurut pengamatan saya, selama ini di Indonesia belum ada lembaga riset khusus negara yang menangani perkembangan kereta api," kata Handy Purnama, di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, dengan adanya lembaga riset khusus tersebut persoalan keselamatan dan kecepatan kereta api bisa dikontrol dengan matang.

Lembaga khusus riset kereta api tersebut, kata dia, dapat mengacu kepada lembaga-lembaga riset yang sudah ada di beberapa negara maju yakni Jepang, Korea, dan India.

"Di Jepang sudah ada lembaga riset nasional khusus untuk kereta api yaitu RTRI, Korea dengan KRRI, serta India memiliki RDSO," katanya.

Dengan adanya lembaga khusus tersebut, kata dia, maka persoalan kerusakan kereta api yang menyebabkan kecelakaan di Indonesia dapat dihindarkan atau dikurangi.

Sementara itu dengan tidak adanya lembaga riset khusus maka Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi saja.

Lebih dari itu, kata dia, rencananya kereta api indonesia akan masuk program kereta api berkecepatan tinggi atau "High Speed Train" pada tahun-tahun mendatang, maka keberadaan lembaga riset khusus kereta api sangat dibutuhkan.

Sementara itu pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno dalam kesempatan yang sama juga mengatakan mengenai pentingnya memperbesar porsi riset khusus kereta api di Indonesia.

Di China, kata dia, untuk meciptakan tenaga ahli kereta api difasilitasi dengan adanya perguruan tinggi khusus kereta api.

Sementara, dia mengatakan, untuk porsi mata kuliah mengenai perkeretaapian di beberapa perguruan tinggi di Indonesia masih minim.

"Sampai sekarang saja misalnya di UI, UGM, maupun ITB mata kuliah perkeretaapian hanya diberi porsi 2 SKS," katanya.
(KR-LQH)
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012
 http://www.antaranews.com